Aung San Suu Kyi: Dari Ikon Demokrasi Myanmar hingga Simbol Harapan yang Dibungkam
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu pernah menjadi kesayangan para diplomat asing, dengan banyak pendukung di dalam negeri dan reputasi sebagai sosok yang menyelamatkan Myanmar dari sejarah pemerintahan militer yang represif.
Para pengikutnya meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum terakhir Myanmar pada tahun 2020, tetapi militer membatalkan pemilu tersebut, membubarkan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) miliknya, dan memenjarakannya dalam pengasingan total.
Saat dia menghilang dan eksperimen demokrasi selama satu dekade terhenti, para aktivis bangkit—pertama sebagai demonstran jalanan kabarmalaysia.com dan kemudian sebagai pemberontak gerilya yang melawan militer dalam perang saudara yang menghancurkan segalanya.
Wanita berusia delapan puluh tahun itu—yang dikenal di Myanmar sebagai “Sang Wanita” dan terkenal karena mengenakan bunga di rambutnya—tetap ditahan sementara para sipir junta mengadakan pemilu yang membatalkan kemenangannya pada tahun 2020.
Tahap kedua dari pemilihan tiga fase dimulai pada hari Minggu, dengan daerah pemilihan Suu Kyi di Kawhmu, di luar Yangon, diperebutkan oleh partai-partai yang telah disetujui untuk ikut serta dalam pemilihan yang sangat dibatasi ini.
Reputasi Suu Kyi di luar negeri telah tercoreng parah akibat penanganan krisis Rohingya oleh pemerintahannya.
Namun bagi banyak pengikutnya di Myanmar, namanya masih menjadi sinonim dengan demokrasi, dan ketidakhadirannya dalam surat suara merupakan indikasi bahwa demokrasi tidak akan bebas dan tidak adil.
Ikon tak sengaja
Suu Kyi telah menghabiskan sekitar dua dekade hidupnya dalam tahanan militer—tetapi dalam sebuah kontradiksi yang mencolok, dia adalah putri dari pendiri angkatan bersenjata Myanmar.
Ia lahir pada 19 Juni 1945, di Yangon yang diduduki Jepang selama minggu-minggu terakhir Perang Dunia II.
Ayahnya, Aung San, berjuang untuk dan melawan penjajah Inggris dan Jepang dalam upayanya untuk mengamankan kemerdekaan bagi negaranya.
Ia dibunuh pada tahun 1947, beberapa bulan sebelum tujuan tersebut tercapai, dan Suu Kyi menghabiskan sebagian besar tahun-tahun awalnya di luar Myanmar—pertama di India, tempat ibunya menjadi duta besar, dan kemudian di Universitas Oxford, tempat ia bertemu dengan suaminya yang berkebangsaan Inggris.
Setelah Jenderal Ne Win merebut kekuasaan pada tahun 1962, ia memaksakan paham sosialisme versinya di Myanmar, mengubah negara yang dulunya merupakan lumbung padi Asia menjadi salah satu negara termiskin dan paling terisolasi di dunia.
Naiknya Suu Kyi menjadi pejuang demokrasi terjadi hampir secara tidak sengaja ketika ia kembali ke rumah pada tahun 1988 untuk merawat ibunya yang sedang sekarat.
Tak lama kemudian, setidaknya 3.000 orang tewas ketika militer menumpas protes terhadap pemerintahan otoriternya—sebuah momen penting bagi Suu Kyi.
Sebagai seorang orator yang karismatik, wanita berusia 43 tahun itu mendapati dirinya memimpin gerakan demokrasi yang sedang berkembang, tetapi kemudian dikenai tahanan rumah pada tahun 1989.